KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut nama allah SWT yang maha
pengasih lagi maha penyayang. Puji serta syukur atas kehadiratnya, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahnya antara lain berupakekuatan lahir dan batin
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan segala keterbatasan dan
kekurangan.
Tidak lupa penulis mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini
dengan wujud dorongan semangat maupun pikirannya. Penulis berharap semoga
makalah ini dapat menambah pengetahuan khususnya bagi penulis maupun bagi para
pembaca, selanjutnya penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan perbaikan agar penulisan makalah ini menjadi lebih baik
lagi.
Akhir kata dengan segala
kerendahan hati penulis mengucapkan mohon maaf dan terima kasih, semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin…..
Bandung, April 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Aktivitas
manusia sehari-hari di dalam kehidupannya mulai saat bangun tidur dan sampai ia
tidur kembali sudah dapat dipastikan membuat keputusan. Dalam pikiran manusia
proses pengambilan keputusan merupakan suatu awal proses tindakan yang diambil
dan dilakukan sehingga terjadilah suatu kebiasaan meskipun hal itu tidak
dilakukan secara sistimatis dalam suatu langkah tertentu. Selain itu tindakan yang dilakukan tersebut
tidak perlu dipertanggung jawabkan secara kelompok atau dilaporkan karena tidak
ditujukan untuk kepentingan kerjasama kelompok maupun organisasi. Dalam
hubungannya dengan aktivitas kerja sama kelompok maupun organisasi, setiap organisasi baik
dalam skala besar maupun kecil, terdapat terjadi perubahan-perubahan kondisi
yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan eksternal dan internal
organisasi selanjutnya di dalam suatu
organisasi terdapat pimpinan dan bawahan, maka tugas pengambilan keputusan
adalah tugas utama dari pimpinan.
Dalam
pembuatan keputusan tersebut mencakup kegiatan identifikasi masalah, perumusan
masalah, dan pemilihan alternatif keputusan berdasarkan perhitungan dan
berbagai dampak yang mungkin timbul. Begitu juga dalam tahap implementasi atau
operasional dalam suatu organisasi, pimpinan harus membuat banyak keputusan
rutin dalam rangka mengendalikan pekerjaan sesuai dengan rencana dan kondisi
yang berlaku. Sedangkan dalam tahap pengawasan yang mencakup pemantauan, pemeriksaan,
dan penilaian terhadap hasil pelaksanaan dilakukan untuk mengevalusai
pelaksanaan dari pembuatan keputusan yang telah dilakukan.
Hakikatnya
kegiatan administrasi dalam suatu organisasi adalah pembuatan keputusan.
Kegiatan yang dilakukan tersebut mencakup seluruh proses pengambilan keputusan
dari mulai identifikasi masalah sampai dengan evaluasi dari pengambilan
keputusan yang melibatkan seluruh elemen-elemen dalam administrasi sebagai
suatu sistem organisasi.
Artinya
dalam membuat suatu keputusan untuk memecahkan suatu permasalahan yang
ditimbulkan dari adanya perubahan-perubahan yang terjadi dalam organisasi
dibutuhkan informasi yang cukup baik dari internal maupun eksternal organisasi
guna mengambil keputusan yang tepat dan cepat.
Pada
akhirnya, kegiatan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat merupakan bagian
dari kegiatan administrasi dimaksudkan agar permasalahan yang akan menghambat
roda organisasi dapat segera terpecahkan dan terselesaikan sehingga suatu
organisasi dapat berjalan secara efisien dan efektif dalam rangka mencapai
suatu tujuan organisasi.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimanakah proses manajemen dan hubungan dengan
pengambilan keputusan ?
2.
Teori dasar pengambilan keputusan
3.
Faktor-faktor
apa saja yang mempengaruhi pengambilan keputusan ?
4.
Tipe dan jenis pengambilan peputusan
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui dan memahami proses manajemen dan
hubungan dengan pengambilan keputusan, Teori dasar pengambilan keputusan, faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan, serta tipe dan jenis pengambilan
keputusan
2.
Untuk mengetahui efektif dan tidaknya pengambilan
keputusan yang dipergunakan dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagai
Aparatur Sipil Negara.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pengambilan
Keputusan
Secara umum, pengambilan
keputusan adalah upaya untuk menyelesaikan masalah dengan memilih alternative
solusi yang ada.
Menurut terry (Ibnu syamsi, 1995:5),
pengambilan keputusan adalah :
“Tindakan pimpinan untuk memecahkan
masalah yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya melalui pemilihan satu
di antara alternatif-alternatif yang dimungkinkan. Hakikatnya pembuatan
keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif
yang dihadapi dan mengambil tindakan yang tepat.”
Pada hakikatnya, pengambilan
keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat suatu
masalah, pengumpulan fakta dan data, penentuan yang matang dari alternative
yang dihasilkan dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan
tindakan yang paling tepat. Dengan perkataan lain, pengambilan keputusan adalah
suatu teknik untuk memecahkan masalah dengan menggunakan teknik-teknik ilmiah.
B. Definisi
Pengambilan Keputusan
Keputusan
adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal itu berkaitan
dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang harus dilakukan dan
seterusnya mengenai unsur-unsur perencanaan. Dapat juga dikatakan bahwa
keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran yang berupa
pemilihan satu diantara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah yang dihadapinya.
Keputusan
itu sendiri merupakan unsur kegiatan yang sangat vital. Jiwa kepemimpinan
seseorang itu dapat diketahui dari kemampuan mengatasi masalah dan mengambil keputusan
yang tepat. Keputusan yang tepat adalah keputusan yang berbobot dan dapat
diterima bawahan. Ini biasanya merupakan keseimbangan antara disiplin yang
harus ditegakkan dan sikap manusiawi terhadap bawahan. Keputusan yang demikian
ini juga dinamakan keputusan yang mendasarkan diri pada human relations.
Setelah pengertian keputusan disampaikan, kiranya perlu pula diikuti dengan
pengertian tentang “pengambilan keputusan”. Ada beberapa definisi tentang
pengambilan keputusan, dalam hal ini arti pengambilan keputusan sama dengan
pembuatan keputusan, misalnya Terry, definisi pengambilan keputusan adalah
pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih ( tindakan
pimpinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam organisasi yang
dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu diantara alternatif-alternatif yang
dimungkinkan).
Menurut
Siagian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan terhadap hakikat suatu
masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi
dan pengambilan tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang
paling tepat. Dari kedua pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa keputusan itu diambil dengan sengaja, tidak secara kebetulan, dan tidak
boleh sembarangan. Masalahnya telebih dahulu harus diketahui dan dirumuskan
dengan jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan pemilihan alternatif
terbaik dari alternatif yang ada.
C. Dasar Pengambilan Keputusan
Menurut George R.Terry dan
Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari pengambilan keputusan yang
dapat digunakan yaitu :
a)
Intuisi
Pengambilan keputusan yang
didasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif sehingga mudah
terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi ini mengandung
beberapa keuntungan dan kelemahan.
b)
Pengalaman
Pengambilan keputusan
berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena
pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat diperhitungkan
untung ruginya terhadap keputusan yang akan dihasilkan. Orang yang memiliki
banyak pengalaman tentu akan lebih matang dalam membuat keputusan akan tetapi,
peristiwa yang lampau tidak sama dengan peristiwa yang terjadi kini.
c)
Fakta
Pengambilan keputusan
berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan
fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih
tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu
dengan rela dan lapang dada.
d) Wewenang
Pengambilan keputusan
berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau
orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah
kedudukannya. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang ini juga memiliki
kelebihan dan kekurangan.
5.
Logika/Rasional
Pengambilan keputusan yang
berdasarkan logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semuan unsur pada
setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan yang
berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih
transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala
tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa
yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan secara logika terdapat beberapa hal
yang perlu diperhatikan, yaitu :
a)
Kejelasan masalah
b)
Orientasi tujuan : kesatuan pengertian tujuan yang
ingin dicapai
c)
Pengetahuan alternatif : seluruh alternatif diketahui
jenisnya dan konsekuensinya
d)
Preferensi yang jelas : alternatif bisa diurutkan
sesuai criteria
e)
Hasil maksimal : pemilihan alternatif terbaik
didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal
D.
Jenis – Jenis Keputusan
Organisasi
Jenis keputusan dalam sebuah
organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk
mengambil keputusan tersebut, bagian mana organisasi harus dapat melibatkan
dalam mengambil keputusan dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut
difokuskan.
Secara garis besar jenis keputusan
terbagi menjadi dua bagian yaitu :
a)
Keputusan Rutin
Keputusan Rutin adalah Keputusan yang
sifatnya rutin dan berulang-ulang serta biasanya telah dikembangkan untuk
mengendalikannya.
b)
Keputusan tidak Rutin
Keputusan tidak Rutin adalah
Keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.
E.
Teknik Pengambilan Keputusan
Teknik pengambilan keputusan
adalah suatu penerapan ilmu dan teknologi untuk mengambil keputusan dari sebuah
pilihan atau masalah yang dihadapi.
Teknik-teknik pengambilan keputusan yang dikemukakan oleh pakar siagian,
s.p antara lain :
1.
Brainstorming
Jika sekelompok orang dalam suatu
organisasi menghadapi suatu situasi problematic yang tidak terlalu rumit, dan
dapat diidentifikasikan secara spesifik mereka mengadakan diskusi dimana setiap
orang yang terlibat diharapkan turut serta memberikan pandangannya. Pada akhir
diskusi berbagai pandangan yang dikemukakan dirangkum, sehingga kelompok
mencapai suatu kesepakatan tentang cara-cara yang hendak ditempuh dalam
mengatasi situasi problematic yang dihadapi. Penting diperhatikan dalam teknik
ini yaitu:
a)
Gagasan yang aneh dan tidak masuk akal sekalipun
dicatat secara teliti.
b)
Mengemukakan sebanyak mungkin pendapat dan gagasan
karena kuantitas pandanganlah yang lebih diutamakan meskipun aspek kualitas
tidak diabaikan.
c)
Pemimpin diskusi diharapkan tidak melakukan penilaian
atas sesuatu pendapat atau gagasan yang dilontarkan, dan peserta lain
diharapkan tidak menilai pendapat atau gagasan anggota kelompok lainnya.
d)
Para peserta diharapkan dapat memberikan sanggahan
pendapat atau gagasan yang telah dikemukakan oleh orang lain.
e)
Semua pendapat atau gagasan yang dikemukakan kemudian
dibahas hingga kelompok tiba pada suatu sintesis pendapat yang kemudian
dituangkan dalam bentuk keputusan.
2.
Synetics
Seorang diantara anggota
kelompok peserta bertindak selaku pimpinan diskusi. Diantara para peserta ada
seorang ahli dalam teori ilmiah pengambilan keputusan. Apakah ahli itu anggota
organisasi atau tidak, tidak dipersoalkan. Pimpinan mengajak para peserta untuk
mempelajari suatu situasi problematik secara menyeluruh. Kemudian masing-masing
anggota kelompok mengetengahkan daya pikir kreatifnya tentang cara yang
dipandang tepat untuk ditempuh. Selanjutnya pimpinan diskusi memilih
hasil-hasil pemikiran tertentu yang dipandang bermanfaat dalam pemecahan
masalah. Dan tenaga ahli menilai melakukan penilaian atas berbagai gagasan
emosional dan tidak rasional yang telah disaring oleh pimpinan diskusi serta
kemudian menggabungkannya dengan salah satu teori ilmiah pengambilan keputusan
dan tindakan pelaksanaan yang diambil.
3.
Consensus Thinking
Orang-orang yang terlibat dalam
pemecahan masalah harus sepakat tentang hakikat, batasan dan dampak suatu
situasi problematik yang dihadapi, sepakat pula tentang teknik dan model yang
hendak digunakan untuk mengatasinya. Teknik ini efektif bila beberapa orang
memiliki pengetahuan yang sejenis tentang permasalahan yang dihadapi dan
tentang teknik pemecahan yang seyogyanya digunakan. Orang-orang diharapkan
mengikuti suatu prosedur yang telah ditentukan sebelumnya. Kelompok biasanya
melakukan uji coba terhadap langkah yang hendak ditempuh pada skala yang lebih
kecil dari situasi problematik yang sebenarnya.
4.
Delphi
Umumnya digunakan untuk
mengambil keputusan meramal masa depan yang diperhitungkan akan dihadapi
organisasi. Teknik ini sangat sesuai untuk kelompok pengambil keputusan yang
tidak berada di satu tempat.
Pengambil keputusan menyusun
serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan suatu situasi peramalan dan
menyampaikannya kepada sekelompok ahli. Para ahli tersebut ditugaskan untuk
meramalkan, apakah suatu peristiwa dapat atau mungkin terjadi atau tidak.
Jawaban dari anggota kelompok tadi dikumpulkan dan masing-masing anggota ahli
mempelajari ramalan yang dibuat oleh masing-masing rekannya yang tidak pernah
ditemuinya. Pada kesempatan berikutnya, rangkaian pertanyaan yang sama
dikembalikan kepada para anggota kelompok dengan melampirkan jawaban yang telah
diberikan oleh para anggota kelompok pada putaran pertama serta hal-hal yang
dipandang sudah merupakan kesepakatan kelompok. Apabila pendapat seseorang ahli
berbeda maka memberikan penjelasannya secara tertulis. Tiap-tiap jawaban
diberikan kode tertentu sehingga tidak diketahui siapa yang memberikan jawaban.
Jawaban tersebut di atas dilakukan dengan beberapa putaran. Pengedaran daftar
pertanyaan dan analisa oleh beberapa ahli dihentikan apabila telah diperoleh
bahan tentang ramalan kemungkinan terjadi sesuatu peristiwa di masa depan.
5.
Fish bowling
Sekelompok pengambil keputusan
duduk pada suatu lingkaran, dan di tengah lingkaran ditaruh sebuah kursi.
Seseorang duduk di kursi tersebut hanya dialah yang boleh bicara untuk
mengemukakan pendapat ide dan gagasan tentang suatu permasalahan. Para anggota
lain mengajukan pertanyaan, pandangan dan pendapat. Apabila pandangan orang
yang duduk di tengah tersebut telah dipahami oleh semua anggota kelompok dia
meninggalkan kursi dan digantikan oleh orang yang lain untuk kesempatan yang
sama. Setelah itu semua pandangan didiskusikan sampai ditemukan cara yang
dipandang paling tepat.
6.
Didactic interaction
Digunakan untuk suatu situasi
yang memerlukan jawaban “ya” atau “tidak”. Dibentuk dua kelompok, dengan satu
kelompok mengemukakan pendapat yang bermuara pada jawaban “ya” dan kelompok
lainnya pada jawaban “tidak”. Semua ide yang dikemukakan baik pro maupun kontra
dicatat dengan teliti. Kemudian kedua kelompok bertemu dan mendiskusikan hasil
catatan yang telah dibuat. Pada tahap berikutnya terjadi pertukaran tempat.
Kelompok yang tadinya mengemukakan pandangan pro beralih memainkan peranan
dengan pandangan kontra.
7.
Collective Bargaining
Dua pihak yang mempunyai
pandangan berbeda bahkan bertolak belakang atas suatu masalah duduk di satu
meja dengan saling menghadap. Masing-masing pihak datang dengan satu daftar
keinginan atau tuntutan dengan didukung oleh berbagai data, informasi dan
alasan-alasan yang diperhitungkan dapat memperkuat posisinya dalam proses
tawar-menawar yang terjadi. Jika pada akhirnya ditemukan bahwa dukungan data
dan informasi serta alasan-alasan yang dikemukakan oleh kedua belah pihak
mempunyai persamaan, maka tidak terlalu sukar untuk mencapai kesepakatan.
Tetapi sebaliknya, pertemuan berakhir tanpa hasil yang kemudian sering diikuti
dengan timbulnya masalah yang lebih besar.
F.
Faktor-Faktor Pengambilan
Keputusan
Menurut Terry (1989)
faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai
berikut:
1)
hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang
emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan;
2)
setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan
untuk mencapai tujuan organisasi;
3)
setiap keputusan janganlah berorientasi pada
kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain;
4)
jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan;
5)
pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari
tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik;
6)
pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu
yang cukup lama;
7)
diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk
mendapatkan hasil yang baik;
8)
setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat
diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul; dan
9)
setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari
serangkaian kegiatan berikutnya.
Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut
mempengaruhi pengambilan keputusan.
1) Fisik
Didasarkan
pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan.
Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang,
sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
2)
Emosional
Didasarkan
pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara
subjective.
3)
Rasional
Didasarkan
pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan
berbagai konsekuensinya.
4)
Praktikal
Didasarkan
pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai
potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.
5)
Interpersonal
Didasarkan
pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang
lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
6)
Struktural
Didasarkan
pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil
yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
Selanjutnya, John D.Miller dalam Imam Murtono
(2009) menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan
keputusan adalah:
“jenis
kelamin pria atau wanita, peranan pengambilan keputusan, dan keterbatasan
kemampuan.”
Dalam pengambilan suatu keputusan
individu dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu nilai individu, kepribadian,
dan kecenderungan dalam pengambilan resiko. Pertama, nilai individu
pengambil keputusan merupakan keyakinan dasar yang digunakan seseorang jika ia
dihadapkan pada permasalahan dan harus mengambil suatu keputusan. Nilai-nilai
ini telah tertanam sejak kecil melalui suatu proses belajar dari lingkungan
keluarga dan masyarakat.
Dalam banyak keadaan individu
bahkan tidak berfikir untuk menyusun atau menilai keburukan dan lebih ditarik
oleh kesempatan untuk menang. Kedua, kepribadian. Keputusan yang
diambil seseorang juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kepribadian.
Dua variabel utama kepribadian yang berpengaruh terhadap keputusan yang dibuat,
seperti ideologi versus kekuasaan dan emosional versus obyektivitas.
Beberapa pengambil keputusan
memiliki suatu orientasi ideologi tertentu yang berarti keputusan dipengaruhi
oleh suatu filosofi atau suatu perangkat prinsip tertentu. Sementara itu
pengambil keputusan atau orang lain mendasarkan keputusannya pada suatu yang
secara politis akan meningkatkan kekuasaannya secara pribadi. Ketiga,
kecenderungan terhadap pengambilan resiko. Untuk meningkatkan kecakapan dalam
membuat keputusan, perawat harus membedakan situasi ketidakpastian dari situasi
resiko, karena keputusan yang berbeda dibutuhkan dalam kedua situasi tersebut.
Ketidakpastian adalah kurangnya pengetahuan hasil tindakan, sedangkan resiko
adalah kurangnya kendali atas hasil tindakan dan menganggap bahwa si pengambil
keputusan memiliki pengetahuan hasil tindakan walaupun ia tidak dapat
mengendalikannya. Lebih sulit membuat keputusan dibawah ketidakpastian
dibanding dibawah kondisi bahaya.
Di bawah ketidakpastian si
pengambil keputusan tidak memiliki dasar rasional terhadap pilihan satu
strategi atas strategi lainnya. Adapun dalam referensi lain pengambilan
keputusan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor personal yaitu :
1)
Kognisi, artinya kualitas dan kuantitas pengetahuan
yang di miliki. Misalnya ; Kemampuan menalar, memiliki kemampuan berfikir
secara logis, dll.
2)
Motif, suatu keadaan tekanan dalam diri individu yang
mempengaruhi, memelihara dan mengarahkan prilaku menuju suatu sasaran.
3)
Sikap, Bagaimana keberanian kita dalam mengambil
risiko kepututusan, pemilihan suasana emosi dan waktu yang tepat,
mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin terjadi.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Keberhasilan
suatu individu dan organisasi terletak pada pengambilan keputusan yang tepat.
Maka itu dalam pengambilan keputusan harus didasarkan faktor-faktor pengambilan
keputusan dan teknik pengambilan keputusan yang tepat. Agar jika setiap
individu dan organisasi dilanda masalah, maka akan mudah untuk mencari solusi
alternatif yang anda dan risiko yang besar akan dapat dihindari.
B. Saran
Melalui Makalah ini penulis mengharapkan kepada para pembaca khusunya
universitas gunadarma dapat mengetahui peran pengambilan keputusan untuk
individu dan organisasi dan dapat membuat keputusan yang lebih baik.
Daftar Pustaka :
Rusdiana.H.A & Irfan.Moch. 2014. Sistem Informasi Manajemen. Bandung:CV
Pustaka Setia